Robert Kana Meniti Hidup dengan Produksi Arak ”Bakar Menyala”
LABUAN BAJO, FBC- Sebuah gubuk sederhana terletak di bibir pantai Mbolata, Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur. Gubuk beratap daun lontar tanpa dinding itu sehari-hari menjadi tempat titian hidup Bapak Robert Kana sekeluarga. Pria kelahiran pulau Sabu 30 tahun silam itu tampak berseri-seri ketika FBC menyabangi gubuk, tempat ia dan sang istrinya Marta sehari-hari memproduksi moke, salah satu jenis minuman keras (miras) yang banyak diminati orang Flores dan Lembata.
Bagi masyarakat Florespada umumnya dan Manggarai pada khususnya, moke merupakan salah satu minuman yang sangat digandrungi oleh para pecandu alkohol. Minuman jenis ini biasanya juga disugukan oleh tuan rumah atau para penyelenggara pesta.
Menurut penuturan Robert Kana, ada beberapa jenis moke.Adamoke jenis biasa yaitu moke yang masih berupa tuak putih biasa dan ada pula moke yang sudah menjadi arak yaitu minuman keras yang telah melalui sebuah proses penyulingan.Arakpun masih dibedakan beberapa jenis yakni arak biasa dan arak bakar menyala atau yang lazim disebut “BM”. “Orang menyebut BM karena kalau dibakar bisa menyalah. Dan orang lebih senang kalau yang BM,” ujar pria berkulit legam ini.
Membuat moke atau BM tidak terlampau sulit, cuma membutuhkan keuletan dan kesabaran.Untuk mendapatkan bahan baku tuak, ia membeli dari orang yang memproduksi tuak putih. Biasanya, tuak putih banyak dijual di pasar tradisional tidak jauh dari tempat ia memproduksi arak berjenis BM ini. Harga 5 liter tuak putih berkisar antara Rp.15.000.- 20.000.
Tuak itu diisi di ember atau tempayan khusus. Cara pembuatan arak atau BM pun mudah. Tuak putih diisi di tempayan, biasanya wadah yang terbuat dari periuk tanah. Tempayan-tempayan itu kemudian dirancang sedemikian rupa dengan dipasangi bambu yang panjangnya berkisar antara 5 – 6 meter.
Adapun fungsi dari bambu yakni sebagai sarana penyulingan. Ruas-ruas bambu dilubangi agar dapat menyalurkan cairan dari periuk induk. Ujung Cairan itu akan mengalir melalui ruas-ruas bambu tersebut menuju ke ujung bambu di mana pada ujung bambu telah dipasangi wadah penampung seperti jerigen atau tempayan.
Minuman moke berjenis BM cukup diminati banyak orang termasuk para turis mancanegara yang berkunjung ke pantai Mbolata. Untuk diketahui, tempat produksi milik Om Robert demikian ia biasa disapa hanya beberapa meter dari lokasi obyek wisata pantai Mbolata dan penginapan Cottage Mbolata milik pengusaha muda setempat, Fransiskus de Rosari Huik. “Ada banyak turis yang datang dan membeli BM. Saya senang membuka usaha di sini karena setiap hari apalagi hari minggu dan hari libur banyak orang berkunjung ke sini,” tambahnya.
Moke apalagi berjenis BM sudah merupakan titian hidup Om Robert sekeluarga. Sehari-hari keluarga sederhana ini menggantungkan hidup mereka pada hasil olah tuak putih. Sebulan Om Robert mengaku bisa mendapatkan keuntungan Rp.1 juta – 2 juta dari hasil jual moke BM. “Pendapatan lumayan. Bisa mencukupi kebutuhan untuk hidup kami sehari-hari.” Sambung Marta, sang istri yang kala itu duduk mendampingi suaminya yang tercint
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2012/08/robert-kana-meniti-hidup-dengan-produksi-arak-bakar-menyala/#sthash.UtR0lISc.dpuf